Kisah Gagal Kampanye Anti Cinta
Jika tengah malam saya terbangun, dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuh saya, itu bukan karena saya sedang sakit. Jika pekerjaan saya menumpuk di akhir, itu juga bukan karena saya malas mengerjakannya. Jika saya lupa membalas email ataupun sms dari teman atau urusan kerja, itu pasti karena saya lupa. Kenapa? Karena akhir-akhir ini saya sedang sibuk kampanye anti cinta.
Berikut beberapa bagian dalam kampanye anti cinta :
Yang Muda yang Melawan
Anak muda kok sukanya membeo, huh! Indonesia banget deh. Apa-apa yang datangnya dari barat pasti dianggap keren. Begitu pula dengan kawula muda di daerah, apa-apa yang datang dari Jakarta selalu dianggap keren! Mau mengakui itu atau tidak? Itu sih tergantung yang telah kita perbuat.
Ngomong-ngomong soal membeo, saya jadi ingat ketika saya nongkrong di salah satu kedai kopi di Semarang. Beruntunglah diriku ini, karena yang menemani nongkrong adalah si pemilik kedai. Cerita punya cerita, kita pun ngobrol panjang lebar. Ternyata, si pemilik kedai ini, memiliki idealisme yang kuat, dan usianya masih cukup muda. Dia masih tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1998, sama seperti saya. Cuman saya sudah lupus, dia hampir lulus. Cuman lagi dia udah punya usaha saya masih ikut perusahaan orang. Terus apa yang saya dan pemilik kedai bahas?
Continue reading ‘Yang Muda yang Melawan’
Dua Hari Bersamamu
Aku berharap ada perubahan yang cukup berarti dalam hidupku setelah dua hari itu. Dan harapanku itu menjadi kenyataan. Meski perubahan itu sangat tidak seperti yang aku harapkan pada awalnya. Namun aku merasa senang dengan perubahan itu.
Memang kadang kita bisa mencapai perubahan hanya dengan memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu yang kita inginkan. Namun, kadang kita juga butuh sebuah momentum untuk berubah. Momentum itu kebetulan bernama Pelatih Blog yang dilaksanakan Sabtu-Minggu, 21-22 Juli lalu di Unissula. Saya termasuk salah satu tutor dari Loenpia yang dipercaya untuk melaksanakan pelatihan tersebut.
Continue reading ‘Dua Hari Bersamamu’
Kejarlah Daku Kau Kutolak
Sabtu sore sebuah pesan pendek aku terima. Isinya tentang seseorang yang ingin mengajak aku untuk bertemu pada hari Senin. Karena memang bisa meluangkan waktu, akupun meminta dia untuk menemuiku sekitar pukul satu siang.
blablabla…. Senin siang dia menelponku. Kita janjian di sebuah rumah makan paling bergengsi di kota kretek. Aku sampai lebih dahulu di sana. Beberapa saat kemudian dia datang bersama beberapa temannya.
Continue reading ‘Kejarlah Daku Kau Kutolak’





Recent Comments