Cinta, Ambisi, dan Sebuah Pengakuan

26Jan07

Dia dijuluki “Lord of war”, tapi dia tidak pernah mau melukai orang lain. Dia juga jatuh cinta pada wanita, menikahi, dan setia. Sangat peduli pada adik kandung dan hormat pada kedua orang tua. Sama seperti manusia pada umumnya.
Namanya Yuri Orlov (Nicolas Cage) berasal dari Ukraina. Dia pindah ke Amerika bersama kedua orang tua dan adik lelaki, Anatoly Orlov (Jean-Pierre Nshanian). Keluarga kecil itu tampak tidak kekurangan materi. Namun rutinitas harian mengurus restoran membuat Yuri Orlov bosan. Dia ingin berbuat sesuatu yang besar dalam hidup.
Film yang disutradarai dan ditulis sekenarionya oleh Andrew Niccol ini mulai mengalir saat Yuri Orlov mengajak Anatoly menjadi pengedar senjata. Tidak mudah bagi Yuri Orlov memengaruhi adiknya untuk bergabung. Resikonya terlalu berat, yaitu nyawa. Karakter Yuri yang dingin dan cerdas mampu menyakinkan Anatoly bahwa bisnis yang akan dijalaninya tidak hanya menguntungkan secara materi. Tapi juga berperan dalam mengubah dunia.


Awalnya mereka gagal mengajak kerjasama seorang pengedar senjata profesional. Yuri Orlov punya kecerdasan dan kemauan kuat. Mereka berdua langsung datang ke daerah-daerah konflik untuk menawarkan senjata. Di mulai dari kawasan konflik di Timur Tengah, Yuri dan Anatoly Orlov mendapat order pertama pembelian senjata.
Kecerdasan Yuri Orlov pula yang sering menyelamatkan nyawa dan bisnis mereka. Ketika kapal pengangkut senjata terdeteksi Interpol, Yuri dengan cepat memerintahkan kru kapal untuk mengganti nama kapal. Ketika Interpol telah sampai di lokasi, Yuri mengirim kabar kepada intelejen “binaannya” bahwa kapal pengangkut senjata telah di bajak.
Kejadian lain adalah saat Yuri dan Anatoly mengirim senjata ke pemberontak di Kuba. Senjata mereka tidak dibayar dengan uang kontan, tapi dengan kokain. Yuri menolak karena dia tidak berbisnis narkoba. Ketegangan terjadi, Yuri terserempet peluru pada perutnya. Kecerdasan Yuri berbicara, dia menerima transaksi tersebut.
Begitu pula saat pesawat pengangkut senjata terdeteksi radar pesawat Interpol. Dia berusaha menghubungi pejabat militer, tapi ditolak. Yuri meminta pilot untuk mendaratkan pesawat di jalan. Setelah mendarat, awak pesawat dengan cepat melarikan diri. Namun Yuri tetap tenang, dia memberikan semua senjata dan amunisi yang ada di pesawat itu secara cuma-cuma kepada warga sekitar. Tidak ada lagi barang bukti yang tersisa, sekali lagi Yuri lolos dari sergapan Interpol.

Sindir Kapitalisme
Nicolas Cage mampu menampilkan karakter Yuri Orlov sebagai ironi. Dalam bisnisnya dia sangat pragmatis. Tidak peduli dari mana senjata itu dibeli dan kepada siapa senjata itu dijual. Tidak peduli apakah senjata itu untuk melakukan pembantaian atau untuk misi perdamaian. Baginya yang penting adalah keuntungan materi.
Yuri Orlov selalu berlindung pada sisi lemah undang-undang. Ketika Uni Sovyet hancur dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil, dengan cepat Yuri memanfaatkan momen tersebut. Dia membeli semua peralatan militer Uni Sovyet. Tindakan itu memang tidak legal, tapi tidak juga ilegal karena tidak ada peraturan yang dapat digunakan untuk menjeratnya.
Hukum bisa saja disiasati oleh Yuri Orlov, tetapi tidak dengan Istri, Ava Vontaine (Bridget Moynahan). Karena cintanya pada sang suami, Ava meminta Yuri untuk menghentikan bisnisnya. Ava mengatakan, biarpun tidak melanggar hukum perbuatan menjual senjata itu sangat buruk. “Banyak nyawa yang telah terbuang percuma dengan senjata itu,” tegas Ava Vontaine.

Kritik Amerika

Yang paling mengejutkan dari film ini adalah ketika Yuri Orlov tertangkap oleh Interpol. Di ruang interogasi Interpol, Yuri tampak tenang seperti tidak takut menghadapi penjara. Interpol yang selama ini mengejarnya, merasa aneh dengan sikap Yuri. Interpol mengira Yuri tidak tahu dengan situasi yang sedang dihadapinya. Alur cerita tampak mengarah inilah akhir perjalanan Yuri Orlov.
Situasinya sangat jelas. Yuri tidak lagi diakui sebagai anak oleh orang tuanya. Adiknya tertembak mati saat mengantar Yuri mengirim senjata. Istri dan anak pergi meninggalkannya. Dia hanya sendiri. Semua yang dicintai telah meninggalkannya.
Di sinilah Andrew Niccol tampak berhasil membangun konflik film ini. Yuri Orlov hanya karakter perantara untuk membidik bos besar di balik semua peperangan. “Setahun saya menjual senjata itu tidak lebih besar dari sehari saja Presiden Amerika menjual senjata. Saya hanya pengecer,” ungkap Yuri Orlov.



11 Responses to “Cinta, Ambisi, dan Sebuah Pengakuan”

  1. bos. resensinya bagus. jadi pengen nonton langsung filmnya.

  2. wah aku udah nonton nih! bagus filmnya.. tapi jadi serem juga ngeliat orang jual senjata kaya kacang goreng

  3. wew, blognya ganti muka,
    filmyabagus Nev?
    ada dvdnya gak? minjem!!

  4. pinjam DVDnya… !!!!

  5. bagus juga tulisannya.. sayangnya gak dari dulu.. kan dah lama tuh filmnya

    btw mas munif.. tukeran blogroll dong.. add ke blogku y…

  6. kpn2 nonton ahhh..dendi,ada tho kamu..???
    klo ga,….nev..nyilehhh..!!!!

  7. WAAAAAAAAAAAHHH!!! SELOMOT!!!!
    UDAH PUNYA RUMAH NIH!!
    😀

  8. kenapa ya biaya perang yg buanyak itu ga dialihkan buat bangun sekolahan aja ya..

  9. Wah … resensinya bagus. Penggemar film juga ya? hehehe
    salam kenal, nice blog!

  10. nice movie…
    aku dah pernah nonton juga..
    filmnya berani banget…

  11. this movie is awesome… gue ampe mau jadiin ini film buat skripsi gue… tapi plaese kasih masukan dungk


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: