Mata Teduhmu di Mata Teduhmu

06Nov06

Di matamu aku melihat wajahku. Semakin dalam aku perhatikan wajahku di matamu, semakin aku tahu, aku tak pernah ingin lepas menatap wajahku di mata teduhmu. Malah kadang aku mengangankan melihat tubuhku menari-nari, melayang terbang, tidur pulas, atau pun bahkan menangis di mata teduhmu.
Tentu aku berharap kamu ingat itu, karena itu adalah jawabanku ketika kamu bertanya padaku tentang arti cinta sejati. Tapi sebuah harapan kadang adalah sebuah mimpi indah, dia datang begitu saja dan pergi saat kita sangat membutuhkannya. Meski kadang sebuah harapan adalah juga makanan yang terhidang dan kita boleh memilih apa saja untuk disantap. Kali ini yang terjadi padaku sebuah harapan tak lebih dari sebuah mimpi indah.
Aku tak lagi melihat wajahku di mata teduhmu, meski kamu ada di depanku, meski mataku dan matamu saling bertatapan dalam jarak yang hampir tidak berjarak.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?” kataku.
Beberapa saat aku menunggu sebuah jawaban dari mulutmu melintas meski hanya sebentar di telingaku. Saat itu tak juga datang. Kamu hanya diam dalam dudukmu, dan kamu bergerak bukan untuk memberi jawaban tapi untuk memberi jarak di antara kamu dan aku. Melihat itu, seperti aku melihat bulan yang berlinang air mata dan air mata itu menetes kemudian menusuk tepat di hatiku. Sebentar aku pejamkan mata untuk meredam sakit itu.
Senyum kembali kupaksa untuk lahir dari mulutku.
“Kenapa hanya diam?” tanyaku.
Gerak lembut wajahmu tertuju ke arahku, mata kita bertatapan. Aku kembali mencari wajahku di mata teduhmu, seperti yang selalu aku lakukan saat mata kita bertatapan, tapi kembali aku tidak menemukan.
“Bolehkah aku tetap diam,” jawabmu.
Mendengar jawabanmu, apa yang bisa aku lakukan selain diam seperti katamu. Kita berdua mengisi waktu dengan diam. Kamu diam dengan raut muka sendumu, aku diam dengan mimpiku yang hancur. Aku berharap mimpi itu tidak jadi hancur. Apalah arti hidup tanpa sang cinta sejati mengiringi setiap detak hati.
Dalam ruang yang dibiarkan hening itu, bagaimanapun aku tetap merasa ada karena berposisi di sekitarmu. Ini begitu menyentuh eksistensi dan kesadaran diriku sebagai seorang manusia. Aku menganggap, aku ada jika aku berada di sisimu. Kesadaran itu membuatku kembali bersyukur. Bagaimanapun keadaannya, keadaan itu pastilah jauh lebih indah hanya karena aku berada di dekatmu. Meski aku dan kamu hanya diam. Tapi selalu ada pertanyaan dalam diam. Dan pertanyaan itu begitu menyita energi pikiranku, karena menyentuh eksistensiku.
“Menurutmu cinta sejati ada atau tidak?” tanyaku lagi.
Kamu hanya sesaat menatapku, menarik nafas agak panjang dan kembali diam.
“Kamu percaya tidak dengan cinta sejati?” tanyaku lagi berharap kamu mau menjawab.
Tapi kamu tetap diam. Dan pertanyaan-pertanyaan itu semakin menguras energi pikiranku. Pikiranku melayang tak karuan arah, terbang, hinggap di suatu tempat, terbang lagi, hinggap lagi, terbang lagi, hinggap lagi, begitu seterusnya hingga pikiranku terdiam karena lelah. Aku tak tahu apa lagi yang harus kubicarakan dan apalagi yang harus kulakukan. Posisiku benar-benar sulit. Mohon diri untuk pulang dan pergi dari sisimu jelas sebuah pilihan yang tidak akan kupilih. Biarlah aku dan kamu tetap dalam diam, biarlah semua pertanyaan itu menguras seluruh energi pikirku, asal saat ini aku masih tetap di dekatmu. Bukankah dengan berada di dekatmu aku masih bisa mencoba bertanya lagi, lagi, dan lagi sampai kau mau menjawab pertanyaanku.
“Aku mengganggumu? Maaf kalau begitu,” kataku lagi mencoba membuka pertanyaan.
“Maksudnya apa? Kok minta maaf segala,” ucapmu singkat.
Aku senang kamu tak lagi diam. Suasana hatiku terasa nyaman kembali.
“Aku tidak punya maksud apa-apa,” jawabku. “Aku hanya khawatir aku berbuat salah sehingga kamu mendiamkan aku.”
Ruang itu kembali senyap, meski di situ ada kehidupan, tapi tidak ada suara sama sekali. Kalau ada suara pastilah hanya suara nafas atau suara dari luar ruangan itu. Tidak ada kata apapun darimu dalam senyap itu. Kamu kembali tidak berucap apapun setelah mendengar kata-kataku. Waktu telah banyak berlalu. Setiap berlalunya waktu adalah berarti semakin mempersulit posisiku. Aku harus melawan waktu untuk kembali menemukan wajahku di mata teduhmu. Dan kali ini aku merasa gagal.
Esoknya aku kembali menemuimu, membawakan selembar puisi dan sebuah bingkai dengan kain kanvas yang berlukis wajahmu.
“Terima kasih,” ucapmu. “Ini aku juga punya puisi untukmu.”
Gembira hati aku terima puisi darimu. Isi puisi itu adalah jawaban puisi yang aku tulis kemarin. Tapi aku butuh perenungan untuk memahaminya. Itu tentu tidak sekarang saat kamu ada di hadapanku. Karena di sisimu, bagiku itu adalah sebuah puisi. Kemudian aku dan kamu berbicara tentang puisi, tentang film, novel, dan agama. Aku merasa saat itu bulan purnama bersinar membasuhkan keindahan kepada seisi bumi. Aku kembali melihat wajahku di mata teduhmu. Dan dalam setiap keindahan aku telah banyak bercerita tentang itu kepadamu.
Waktu berlalu. Aku dan kamu tidak bertemu dalam waktu cukup lama. Saat bertemu, seperti biasanya, aku membawakan selembar puisi dan sebuah bingkai dengan kain kanvas yang berlukis wajahmu. Dan kamu berucap terima kasih kemudian menulis balasan puisi dariku saat itu juga. Tapi kemudian kamu kembali diam. Dan aku kembali merasa bersalah. Waktu berlalu tak menentu, kadang terasa sangat cepat kadang terasa sangat lambat. Aku tak tahu secara pasti hal apa yang menyebabkan tak menentunya gerak sang waktu, dan saat ini aku tak mau memikirkannya. Jangankan memikirkan hal itu, memikirkan nasibku saja aku sudah terlalu lelah.
Berkali-kali kulihat penanda waktu di tanganku. Aku khawatir waktu tak lagi berjalan karena dihadapanku yang ada adalah diam. Ruang yang diam, kamu yang diam, dan aku yang diam. Kalaulah ada yang membuatku yakin bahwa waktu tetap berjalan itu adalah detak jantungku, gemuruh perasaanku, dan tentu penanda waktu.
“Aku perlu berbicara denganmu, aku bisa gila kalau terus seperti ini,” kataku.
Sungguh sangat terpaksa aku mengatakan itu kepadamu. Aku merasa seperti pengemis yang meminta-minta, yang tak tahu lagi bagaimana harus bertahan hidup. Harusnya aku pergi saja meninggalkanmu. Memilih berjalan di bawah sinar bulan bersama Anggun yang selalu siap menerimaku. Atau bersama Cantiek menyusuri senja dalam hembusan angin pantai. Atau menghabiskan akhir minggu dalam dekapan wangi Bintang yang tak pernah lelah mempersembahkan lukisan bulan kepadaku. Tapi kenapa aku memilih bersamamu mendiami ruang diam ini? Jawabanku selalu sama, yaitu cinta sejati. Aku percaya dengan hati nuraniku. Aku percaya mencintaimu adalah suara hati nuraniku. Dan tak ada hal lain yang harus aku dengarkan selain hati nuraniku. Kalau bukan aku yang mendengarkan hati nuraniku sendiri lalu siapa? Kalau aku sudah tidak mempercayai hati nuraniku sendiri, lalu siapa lagi yang harus aku percaya?
“Bicaralah apa yang ingin kamu bicarakan, meski aku diam bukankah aku pasti mendengarnya,” ucapmu datar tapi menusuk kesadaranku.
Untuk sesaat aku bisa memahami ucapanmu itu. Aku kembali menatap mata teduhmu mencoba mencari wajahku. Tapi penglihatanku tak cukup tajam untuk melihatnya. Jarak kamu dan aku terlalu jauh bagi indera penglihatanku untuk melihat sesuatu secara jelas. Aku mencoba mendekat agar semakin jelas. Aku lihat kamu pun mendekat ke arahku, hingga hampir tak ada jarak di antara kamu dan aku. Aku melihat betapa bahagianya wajahku di mata teduhmu. Aku juga melihat mata teduhmu di mataku yang terlukis di mata teduhmu.



3 Responses to “Mata Teduhmu di Mata Teduhmu”

  1. i dont understand, bagaimana dengan diam seseorang bisa saling berkomunikasi, via hati? Entahlah…atau via tatap mata saja sudah tersampai sebuah pesan? Kok jadi nggliyeng yo?

  2. 2 munif

    aku juga nngliyeng kok, hehe
    ini cerpen tetang keimananku, meski Tuhan (tampak) diam tapi dia tetap tau apa yang kita lakukan…

  3. diam…seperti aku dan dia…*puitis banget pakne ini yang jadi juara sampe ke bali yaaa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: