Mungkin Aku Memang Salah

02Nov06

Apa mau dikata, lebaran ini aku tidak punya cerita yang cukup mengharukan untuk ditulis. Begitu pula dengan kejadian di sekitarku, semua berjalan seperti biasanya. Bahkan selama hidupku pun aku tak pernah mengalami hari lebaran yang cukup mengharukan untuk ditulis.
Tapi bicara tentang maaf, ada sebuah kejadian yang masih bisa kuingat sampai sekarang. Tepatnya ketika aku duduk di kelas tiga SMP. Ceritanya begini.


Hari itu—aku lupa entah pelajaran apa, guru pengajar meminta kami untuk maju mengerjakan pekerjaan rumah di papan tulis. Satu persatu teman maju dan mengerjakan soal pertama. Tapi semua salah, akupun mencoba untuk ikut mengerjakannya, dan ternyata juga salah. Ketika aku mau duduk secara reflek ketika guru itu mengatakan jawabanku salah aku mengatakan, “aduh salah juga”.
Beberapa murid lain maju mengerjakan soal yang sama tapi tetap saja salah. Setelah tidak ada yang maju, guru tadi berbicara. “Jika anak yang tadi tidak terima saya salahkan tidak mau meminta maaf pada saya maka pelajaran tidak saya lanjutkan,” katanya tanpa menunjuk seorang pun di antara kami.
Semua diam, saya pun diam karena merasa tidak bersalah. Guru itu pun keluar dan mengatakan tidak akan mengajar di kelas ini lagi jika anak tadi tidak meminta maaf. Semua murid saling bertatapan, seorang murid yang ada di depanku mengatakan, “mungkin dia tersinggung dengan ucapanmu tadi”.
Aku berpikir dan bertanya pada dia dan diri sendiri, “ucapan yang mana?”
“Itu lho ucapan waktu kamu selesai mengerjakan di papan tulis,” jawabnya.
Aku mencoba berpikir keras mengingat ucapan yang kukatakan yang sekiranya menyinggung perasaan guru tadi. Tapi aku gagal.
“Itu lho, ucapan, aduh salah juga,” kata teman di depanku.
Meski merasa aneh dengan ketersinggungan guru tadi. Aku tetap pergi ke ruang guru untuk minta maaf. Aku tidak mau teman sekelasku terkena getah dari perbuatanku. Atau mungkin aku memang salah karena tidak berhati-hati ketika mengucapkan sesuatu. Setidaknya setelah kejadian itu aku lebih berhati-hati dalam berbicara.
“Pak guru, pak guru, udah tua kok masih suka ngambek seperti anak TK. Hehe… piss! Maaf lagi ya Pak”.



2 Responses to “Mungkin Aku Memang Salah”

  1. Selamat yahhh meraih juara pertama, memang layak menang….

  2. 2 akhlis

    iya,ogah banget punya guru ngambekan.kayak dah ga pny wibawa aja…aku aja ngajar ada anak yg njengkelin,tinggal bales aja…kasih tgs banyak atau suruh apa kek yg bikin dia kapok.gurunya jg salah tuh…harusnya org yg lebih tua jg pny inisiatif duluan utk minta maaf.apalagi kl marahnya ga rasional


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: