Maaf Ini Antropologi

02Nov06

Meski terawihku jarang-jarang, puasaku belepotan, dan maafku tak setulus Kahlil Gibran. Mumpung lebaran, siapa tau dapat bonus kefitrian. Mohon maaf lahir dan batin.Jika lebaran kemarin ada yang mendapat sms dari aku, pasti smsnya sama persis dengan sms di atas. Kalau BJ Habiebie, Wiranto, Soeharto, Prabowo, dan beberapa orang terkemuka negeri ini menerbitkan buku untuk menjelaskan peristiwa penting yang pernah terjadi di negeri ini berkait dengan sikap dan tindakan mereka. Boleh dong aku juga memberi keterangan pada sms yang aku kirim saat lebaran kemarin.


Sindiran yang bernada ironi, inilah semiotika yang terdapat dalam sms di atas. Aku mengadaptasi semangat salah satu iklan rokok, dengan banyak idiom populer yang telah mereka publikasikan, seperti: Jalan Pintas Dianggap Pantas; Kalo Bisa Mudah Kenapa Dipersulit; Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang dan masih banyak idiom lain yang cukup sering kita dengar dan baca di media massa.
Coba baca lagi sms di atas, masak sich dengan terawih yang jarang-jarang dan puasa yang belepotan kita akan bisa mendapat ke-fitri-an di hari raya idul fitri? Sebuah ironi bukan? Tapi itulah yang banyak terjadi di negeri ini. Maaf ini adalah antropologi. Aku melihat yang tampak di masjid-masjid dan warung-warung makan saat bulan puasa dan fenomena semarak orang bermaafan di hari raya idul fitri.
Meski aku berharap orang yang tidak sholat di masjid mereka melaksanakan sholat di rumah masing-masing. Orang yang ada di warung-warung makan di siang hari mereka sedang dalam perjalanan sehingga tidak diwajibkan berpuasa. Sehingga ada hubungan yang jelas untuk menerangkan melimpahnya jumlah jamaah sholat ied dan ibadah di bulan ramadhan yang jumlah jamaahnya selalu pas-pasan.
Tapi bukan berarti aku ingin menyindir orang yang aku kirimi sms. Di sms di atas ada kata, terawihku, puasaku. Ya, sms di atas aku maksudkan terutama sebagai ironi bagi diriku sendiri, dan orang-orang yang masih merasa ada yang salah dengan puasa mereka.
Bukankah inti dari kata membuka maaf adalah kesadaran untuk memperbaiki diri sendiri. Dan kita tidak akan bisa memperbaiki diri sendiri jika kita tidak tau atau tidak sadar dengan kesalahan yang kita buat. Tentu Tuhan yang akan menilai seberapa tulus usaha kita untuk memperbaiki diri, seberapa tulus usaha kita untuk melebur dosa kita sendiri.



One Response to “Maaf Ini Antropologi”

  1. 1 nina

    ironi ato paradoks mas??..halah gak nyambung..hehe…minal aidin wal faizin..happy leabran!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: