Sastra Marjinal

15Sep06

Suasana Diskusi Sastra Marjinal.

Sunlie Alexander (cerpenis tinggal di Jogja) dan Gunawan Susanto (Redaktur Hiburan dan Seni, di Suara Merdeka) sepakat, masih terdapat banyak ketidaksepakatan tetang difinisi sastra marjinal. Bahkan Gunawan menganggap tak perlu ada pendifisian sastra marjinal. Menurutnya, sastra marjinal tergantung dari mana kita melihatnya. Apakah dari sastrawannya yang berasal dari kaum marjinal. Ataukah dari temanya yang berisi tentang cerita kaum marjinal.           
Pendapat itu dilontarkan Gunawan dan Sunlie dalam diskusi dengan tema “Sastra Marjinal” dalam salah satu acara rangkaian Library Expo 2006 di perpustakaan IAIN Walisongo. Acara yang berlangsung hari Rabu (5/9) itu dihadir oleh ratusan peserta. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Amunief (Staf Ahli komunitas “Gambaridup” Semarang).
Lebih lanjut Gunawan menjelaskan, selama ini hanya sastrawan dominan yang diajarkan di bangku-bangku kuliah maupun di sekolahan.”Seolah kalau kita tidak menyukai WS Rendra, Chairil Anwar dan sastrawan Balai Pustaka lainnya, kita dianggap tidak paham tentang sastra. Padahal banyak sastrawan muda yang tidak terkenal namanya, tetapi bisa jadi karya mereka lebih baik dari para sastrawan dominan,” paparnya.
Selain itu Gunawan mengungkapkan, secara umum sastra sendiri sebenarnya dalam posisi yang termarjinalkan. “Politiklah yang dominan di negeri ini,” tegasnya.
“Percuma saja kita bicara tentang sastra, jika kita sendiri tidak pernah membaca karya sastra,” pesan Gunawan di akhir acara.



One Response to “Sastra Marjinal”

  1. 1 akhlis

    mungkin bukannya tdk perlu didefinisikan,tp lebih karena definisinya bisa berubah2 sesuai sudut pandang qta, alias subjektif getoh…
    ttg sastra di sekolah,emang bener sih.kecuali di sekolah2 tertentu yg sudah advanced.lebih membebaskan murid2nya menikmati sastra daripada sekedar mewajibkan baca novel ini itu.benci juga kalau diatur2 seperti itu.dan gak hanya di sekolah2 dasar dan menengah.di perguruan tinggi,yg notabene jurusan sastra pun ada yg masih seperti itu.dosennya memberi daftar karya sastra yg harus dilahap dalam kurun waktu tertentu.dan parahnya lagi…msh ada dosen yg cenderung mengkotak2kan karya sastra.pernah mau buat penelitian ttg novel online yg belum diterbitkan dan disunting editor,eh…ada dosenku yg kliatannya kurang sreg…”knp ga ambil yg sudah diterbitkan saja?gitu kata beliau.tapi menurutku,apa editor dan penerbit bisa menjamin kualitas karya itu?malah menurutku,mereka ‘mencemari’ ide2 asli penulis.tau sendirilah,kalau kurang komersil,harus ada perubahan di sana sini.Yg terpenting,kita sbg pembaca harus menentukan sendiri,karya mana yg harus,tdk harus,harus tdk kita baca.membaca bukan paksaan,tp kebutuhan!au revoir!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: