Entahlah

07Jul05

Entahlah sering kali kata-kata itu yang terpikir olehku: entahlah. Sebuah pernyataan tentang ketidaktahuan karena memang mungkin tak bisa diketahui. Kelelahan karena kerja keras otak tak juga menemukannya. Penantian akan sesuatu yang pasti yang di dalamnya banyak ketidakpastian dan aku lebih banyak terlibat di ketidakpastian itu.

Ini bukan tentang baik dan buruk, pahala dan dosa, karena pencarian akan kehadiranNya melampaui keduanya. Pun kegelisahan yang datang bukanlah sebuah jawaban, meski itulah yang melanda jiwa dan rasaku. Bukan karena janji di kitab suci, tapi karena pertanyaan apakah itu janji atau bukan, apakah itu untuk abad ini atau hanya untuk masa lampau. Karena semua memang telah berubah. Sebuah perubahan yang komplek. Dan kita belum memiliki jawaban atas perubahan itu. Karenanya kita selalu bertanya bagi yang masih mau berpikir, atau hanya menuruti setiap abjad dalam kitab suci yang sebagian di antaranya memiliki makna yang tersirat, atau bahkan tidak kedua-duanya: mengakui adaNya tapi tak mau mempedulikan atau sama sekali tidak mengakui adaNya.

 

Penampikan modernitas dan positivismenya dengan postmodern dan postpositismenya, dekontruksi atas pemikiran lama ataupun tafsir kitab suci, hanyalah sebuah pemikiran yang berada di sudut kecil di sebuah ruang yang besar. Gegap gempita budaya popular dengan suntikan kapitalisme telah memasuki setiap ruang dalam hidup manusia. Sehingga tak ada ruang lagi (kalaupun ada itu pasti sangatlah sempit) untuk berpikir tentang makna akan kehadiaranNya.

 

Yang ada adalah ketakutan akan bayangan yang kita cipta sendiri. Manusia telah terjebak dalam bayangannya sendiri. Terjebak dalam teknologi, mode, prestise, budaya yang diciptakannya sendiri. Setiap hari ada saja yang mengingatkan kita untuk berpikir mobil, hp, komputer, atau teknologi baru apa yang akan kita beli selanjutnya. Ini memang abad mainan seperti kata John Naisbitt.

 

Entahlah, itulah kata yang hadir dari semua yang telah terjadi. Dunia dan kehidupannya memang sedang berlari tungganglanggang, meluncur seperti truk yang hilang kendali (Anthony Gidden). Dan kita hanya bisa menanti, bersabar, atau bahkan ada yang bunuh diri!!!



No Responses Yet to “Entahlah”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: