<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Niff Blog &#187; Lomba Blog</title>
	<atom:link href="http://munif.wordpress.com/category/lomba-blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://munif.wordpress.com</link>
	<description>Gejolak Kawula Muda</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2008 12:19:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='munif.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/685f9116f7550a68cb14ed2070405325?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Niff Blog &#187; Lomba Blog</title>
		<link>http://munif.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://munif.wordpress.com/osd.xml" title="Niff Blog" />
		<item>
		<title>Juara Blog Ni Yeeee</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/20/juara-blog-ni-yeeee/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/20/juara-blog-ni-yeeee/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Nov 2006 07:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/20/juara-blog-ni-yeeee/</guid>
		<description><![CDATA[
01. Pagi
Sebel juga pagi-pagi sudah ada yang ngomelin, mana belum makan lagi. Padahal aku harus buru-buru ketemu temen-temen. Katanya sih kami diminta untuk bikin tabloid untuk nelayan dan petani. Ah, sudahlah cuman diomelin kok dipikirin. Senyum aja semua pasti selesai.
Aku berangkat, mampir sebentar isi pulsa, dan jemput temen yang katanya pengen bareng. Sial dia sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=83&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://i17.photobucket.com/albums/b76/emenev/lombablog.jpg" alt="" width="350" height="250" /></p>
<p><strong>01. Pagi</strong><br />
Sebel juga pagi-pagi sudah ada yang ngomelin, mana belum makan lagi. Padahal aku harus buru-buru ketemu temen-temen. Katanya sih kami diminta untuk bikin tabloid untuk nelayan dan petani. Ah, sudahlah cuman diomelin kok dipikirin. Senyum aja semua pasti selesai.<br />
Aku berangkat, mampir sebentar isi pulsa, dan jemput temen yang katanya pengen bareng. Sial dia sudah berangkat! Langsung aja aku ke Jensoed 31, markas besar kami. Di sana Edi dan Pak Gie sudah menunggu. Sebentar kemudian Leni datang. Sambil menunggu Hasim, kami memulai ngobrol serius.<br />
Di tengah rapat, aku menyebut nama seseorang. Ngga tau kenapa tiba-tiba mulutku terbuka dan mengeluarkan namanya. Temen lain pada bengong! Aku pura-pura aja menulis. Jadi malu, kayak orang gila aja aku ini, bicara sendiri! Apalagi Leni tau, aku punya perasaan khusus terhadap orang yang aku gumamkan namanya tadi.<br />
Hampir tengah hari kami sudah selesai. Leni nebeng pulang.</p>
<p><strong>02. Siang</strong><br />
Siang yang panas, jalanan yang padat dan berdebu. Leni mau nebeng sampai kampus. Sekalian aja aku antar masuk ke dalam kampus. Begitu memasuki gerbang kampus. Gila! Orang yang aku sebut namanya tadi baru keluar dari mobil di depanku. Padahal dia ngga kuliah di kampus ini. Dadaku hampir meledak. Aku berhenti.<br />
&#8220;Lagi ada acara apa?&#8221; sapaku.<br />
&#8220;Ini ngumpul ama temen-temen,&#8221; jawabnya.<br />
Aku lanjutkan perjalanan untuk nganter Leni. Kemudian balik lagi ke tempat aku bertemu orang tadi, di kantin kampus.<br />
Dia bersama empat orang temen, lagi makan. Aku menyalami satu-persatu. Kemudian cari tempat duduk yang paling dekat dengan mereka. Dan bisa memandang ke arah orang tadi. Kebetulan di situ ada temen, aku pun duduk di meja yang sama.<br />
Pengen sih memanggil namanya dan mengajak bicara. Tapi terakhir dia lagi marah sama aku. Lagian kalau ketemu dia aku ngga bisa bicara, ngga tau kenapa. Moga aja dia udah tidak marah. Praktis selama setengah jam itu kita hanya bicara beberapa patah kata, bertatapan mata beberapa kali, dan bersalaman dua kali. Ah, andai dia tau apa yang kurasakan.<br />
Rupanya di ruang itu tidak hanya aku yang memandang ke arah orang itu. Mungkin semua cowok memandang ke arah dia. Bahkan temenku sempet menyindir bapak pemilik kantin.<br />
&#8220;Kedip dong Pak,&#8221; katanya bergurau ke pemilik kantin.</p>
<p><strong>03. Malam</strong><br />
Hari yang indah, tapi tidak juga semua berjalan indah. Aku tidak ingin hari ini cepat berlalu. Inginnya sih di depan komputer nulis sesuatu tentang orang itu. Atau di manalah tempat yang asik untuk menyendiri. Jadi malas untuk berangkat ke Le Resto, tempat pengumuman pemenang lomba blog. Tapi inget temen-temen Loenpia[dot]net jadi pengen berangkat lagi.<br />
Eh, aku jadi juara satu. Padahal targetku cuman masuk 30 besar. Ah, pasti jurinya pada kasihan sama aku. Pasti mereka kasihan setelah melihat tampangku yang pas-pasan di profile blog, pasti mereka jatuh iba setelah membaca tulisanku yang penuh penderitaan, pasti mereka tau hanya aku yang sempat pergi ke Bali karena aku masih belum punya kerjaan tetap.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=83&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/20/juara-blog-ni-yeeee/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i17.photobucket.com/albums/b76/emenev/lombablog.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Harus Ada Kata Maaf</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/kenapa-harus-ada-kata-maaf/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/kenapa-harus-ada-kata-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 05:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/02/kenapa-harus-ada-kata-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[
Ya, kenapa harus ada kata maaf? Pernah ngga berpikir siapa sich orang yang pertama kali mengemukakan kata maaf. Dalam literatur ilmiah, yang mendifinisikan sejarah dengan pertama kali munculnya teks tertulis. Kita akan kesulitan menemukan siapa orang yang pertama kali meminta maaf.
Tapi dalam literatur agama, kita akan dengan mudah menemuka siapa orang yang pertama kali meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=77&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://i17.photobucket.com/albums/b76/emenev/lomba.gif" height="176" width="129" /><br />
Ya, kenapa harus ada kata maaf? Pernah ngga berpikir siapa sich orang yang pertama kali mengemukakan kata maaf. Dalam literatur ilmiah, yang mendifinisikan sejarah dengan pertama kali munculnya teks tertulis. Kita akan kesulitan menemukan siapa orang yang pertama kali meminta maaf.<br />
Tapi dalam literatur agama, kita akan dengan mudah menemuka siapa orang yang pertama kali meminta maaf. Yaitu Adam dan Hawa. Dalam literatur agama kita juga tahu Adam dan Hawa lah orang yang pertama kali berbuat salah dengan melanggar perintah Tuhan, memakan buah khuldi. Karena merasa salah itulah Adam dan Hawa meminta maaf berharap Tuhan berkenan untuk melebur dosa mereka.</p>
<p><span id="more-77"></span><br />
Sekarang beribu-ribu tahun setelah Adam dan Hawa. Perbuatan baik meminta maaf itu masih terpelihara. Tentu agamalah yang paling berperan besar memiliharanya. Ajaran dalam agama apapun pasti memerintahkan orang yang berbuat salah untuk meminta maaf. Jika tidak maka akan ada hukumannya. Meski undang-undang, norma, ataupun adat juga mengatur tentang hukuman bagi orang yang berbuat salah, tapi masih banyak sisi yang bisa lolos dari tiga perangkat tersebut.<br />
Dan di agama tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari pengamatan Tuhan. Setiap orang yang berbuat salah harus berusaha untuk meminta maaf jika tidak ingin mendapat hukuman dari Tuhan. Ini adalah salah satu bukti keadilan Tuhan. Andai saja tidak ada hukuman bagi orang yang berbuat salah, bisa jadi dunia ini akan penuh dengan kriminalitas.<br />
Di Indonesia, entah sejak kapan tradisi meminta maaf di hari lebaran ini dimulai? Yang jelas sampai tahun ini tradisi itu masih berjalan. Semua orang saling membuka maaf untuk melebur dosa. Kita sadar bahwa kata maaf tercipta bukan sekadar karena takut akan hukuman Tuhan, tapi juga untuk sejarah kehidupan manuasia agar menjadi lebih baik.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=77&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/kenapa-harus-ada-kata-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i17.photobucket.com/albums/b76/emenev/lomba.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Ketupat Lebaran Berganti Nasi</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/setelah-ketupat-lebaran-berganti-nasi/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/setelah-ketupat-lebaran-berganti-nasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 05:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/02/setelah-ketupat-lebaran-berganti-nasi/</guid>
		<description><![CDATA[Puasa hari terakhir, semua orang bersiap menyambut hari kemenangan. Ada anak-anak yang ribut dengan baju lebaran, ada ibu-ibu yang menyiapkan masakan khas lebaran, ada bapak-bapak yang bersih-bersih rumah, ada orang-orang yang berhimpitan di kereta untuk pulang kampung, dan ada pula yang sibuk menerima ataupun mengirim parcel.
Seolah tak mau ketinggalan, televisi, koran, ataupun media massa lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=76&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Puasa hari terakhir, semua orang bersiap menyambut hari kemenangan. Ada anak-anak yang ribut dengan baju lebaran, ada ibu-ibu yang menyiapkan masakan khas lebaran, ada bapak-bapak yang bersih-bersih rumah, ada orang-orang yang berhimpitan di kereta untuk pulang kampung, dan ada pula yang sibuk menerima ataupun mengirim parcel.<br />
Seolah tak mau ketinggalan, televisi, koran, ataupun media massa lainnya pun banyak menampilkan acara ataupun rubrik khusus untuk menyambut lebaran. Begitu pula dengan tempat-tempat publik dan tempat peribadatan. Lampu-lampu jalan ada yang dibuat berwarna-warni ataupun dihias secara khusus. Tempat-tempat ibadah dibersihkan, sound system di tambah secara khusus untuk takbiran. Semua menuju pada satu titik, merayakan hari raya idul fitri.</p>
<p><span id="more-76"></span><br />
Saat adzan maghrib berkumandang dan dilanjutkan dengan takbir, semua seolah tenggelam dalam ritual keagamaan. Ada yang kemudian berarakan keliling kota untuk bertakbir, ada yang hanya berkeliling di lingkungan sekitar, ada pula yang hanya di masjid dengan menggunakan pengeras suara.<br />
Paginya semua orang berbondong-bondong melaksanakan sholat ied. Ada yang di lapangan ada pula yang di masjid-masjid. Yang jelas semua tempat pelaksanaan sholat ied penuh sesak dengan jamaah sholat. Saat takbir dikumandangkan semua menyambut dengan gegap gembita, dan saat sholat dilaksanaan semua terlihat dalam kekhusukan.<br />
Setelah itu semua berbondong-bondong bersilaturahmi. Semua orang membuka maaf untuk melebur dosa. Ada anak yang menangis bersimpuh di hadapan kaki orang tuanya, ada yang hanya sekadar bersalaman dan berucap maaf, ada pula anak-anak kecil yang begitu bergembira menikmati hari lebaran. Hari itu seolah semua orang benar-benar berada dalam kemenangan.<br />
Hari berganti, lebaran telah usai. Ketupat telah habis dan berganti dengan nasi. Aku duduk di kursi menyimak berita di televisi. Tawuran warga terjadi di beberapa kota. Mereka seolah tak peduli baru saja merayakan idul fitri, hari yang suci. Rupanya puasa kita yang sebulan penuh, gegap gempita kita menyambut idul fitri, tak cukup berarti untuk meredam emosi kita, bahkan di hari idul fitri itu sendiri!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=76&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/setelah-ketupat-lebaran-berganti-nasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mungkin Aku Memang Salah</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/mungkin-aku-memang-salah/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/mungkin-aku-memang-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 05:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/02/mungkin-aku-memang-salah/</guid>
		<description><![CDATA[Apa mau dikata, lebaran ini aku tidak punya cerita yang cukup mengharukan untuk ditulis. Begitu pula dengan kejadian di sekitarku, semua berjalan seperti biasanya. Bahkan selama hidupku pun aku tak pernah mengalami hari lebaran yang cukup mengharukan untuk ditulis.
Tapi bicara tentang maaf, ada sebuah kejadian yang masih bisa kuingat sampai sekarang. Tepatnya ketika aku duduk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=75&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa mau dikata, lebaran ini aku tidak punya cerita yang cukup mengharukan untuk ditulis. Begitu pula dengan kejadian di sekitarku, semua berjalan seperti biasanya. Bahkan selama hidupku pun aku tak pernah mengalami hari lebaran yang cukup mengharukan untuk ditulis.<br />
Tapi bicara tentang maaf, ada sebuah kejadian yang masih bisa kuingat sampai sekarang. Tepatnya ketika aku duduk di kelas tiga SMP. Ceritanya begini.</p>
<p><span id="more-75"></span><br />
Hari itu&#8212;aku lupa entah pelajaran apa, guru pengajar meminta kami untuk maju mengerjakan pekerjaan rumah di papan tulis. Satu persatu teman maju dan mengerjakan soal pertama. Tapi semua salah, akupun mencoba untuk ikut mengerjakannya, dan ternyata juga salah. Ketika aku mau duduk secara reflek ketika guru itu mengatakan jawabanku salah aku mengatakan, &#8220;aduh salah juga&#8221;.<br />
Beberapa murid lain maju mengerjakan soal yang sama tapi tetap saja salah. Setelah tidak ada yang maju, guru tadi berbicara. &#8220;Jika anak yang tadi tidak terima saya salahkan tidak mau meminta maaf pada saya maka pelajaran tidak saya lanjutkan,&#8221; katanya tanpa menunjuk seorang pun di antara kami.<br />
Semua diam, saya pun diam karena merasa tidak bersalah. Guru itu pun keluar dan mengatakan tidak akan mengajar di kelas ini lagi jika anak tadi tidak meminta maaf. Semua murid saling bertatapan, seorang murid yang ada di depanku mengatakan, &#8220;mungkin dia tersinggung dengan ucapanmu tadi&#8221;.<br />
Aku berpikir dan bertanya pada dia dan diri sendiri, &#8220;ucapan yang mana?&#8221;<br />
&#8220;Itu lho ucapan waktu kamu selesai mengerjakan di papan tulis,&#8221; jawabnya.<br />
Aku mencoba berpikir keras mengingat ucapan yang kukatakan yang sekiranya menyinggung perasaan guru tadi. Tapi aku gagal.<br />
&#8220;Itu lho, ucapan, aduh salah juga,&#8221; kata teman di depanku.<br />
Meski merasa aneh dengan ketersinggungan guru tadi. Aku tetap pergi ke ruang guru untuk minta maaf. Aku tidak mau teman sekelasku terkena getah dari perbuatanku. Atau mungkin aku memang salah karena tidak berhati-hati ketika mengucapkan sesuatu. Setidaknya setelah kejadian itu aku lebih berhati-hati dalam berbicara.<br />
&#8220;Pak guru, pak guru, udah tua kok masih suka ngambek seperti anak TK. Hehe&#8230; piss! Maaf lagi ya Pak&#8221;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=75&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/mungkin-aku-memang-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bermaafan Lewat SMS</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/bermaafan-lewat-sms/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/bermaafan-lewat-sms/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 05:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/02/bermaafan-lewat-sms/</guid>
		<description><![CDATA[Lima tahun yang lalu, jika menjelang lebaran, tidak hanya mal dan pusat perbelanjaan yang dipadati pengunjung. Tapi juga kantor pos. Orang-orang harus rela antri untuk mengirim kartu lebaran. Namun sejak lima tahun belakangan ini, sejak Hp sudah menjadi milik banyak orang. Fenomena padatnya kantor pos menjelang lebaran tidak kita jumpai lagi. Tapi ada fenomena lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=72&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lima tahun yang lalu, jika menjelang lebaran, tidak hanya mal dan pusat perbelanjaan yang dipadati pengunjung. Tapi juga kantor pos. Orang-orang harus rela antri untuk mengirim kartu lebaran. Namun sejak lima tahun belakangan ini, sejak Hp sudah menjadi milik banyak orang. Fenomena padatnya kantor pos menjelang lebaran tidak kita jumpai lagi. Tapi ada fenomena lain yang tercipta, yaitu padatnya lalu lintas sms.<span id="more-72"></span><br />
Ini menunjukkan bahwa tradisi bisa berubah seiring perkembangan teknologi. Bisa jadi beberapa tahun lagi, orang tidak mengucapkan maaf dan selamat lebaran lewat sms, tapi lewat e-mail. Ini tentu bukan sebuah masalah, karena esensinya tetap sama, yaitu mengucapkan maaf dan selamat lebaran.<br />
Meski esensinya sama, mengucapkan maaf dan selamat lebaran. Tapi membaca sms lebaran selalu saja mengasikkan bagi penerimanya. Banyak sekali kata-kata kreatif yang tercipta dari sms lebaran. Kata-kata yang tidak kita jumpai di halaman sastra koran maupun majalah, tapi tidak kalah menarik dan tidak kalah kreatifnya.<br />
Tapi tentu saja tidak semua sms lebaran berbau kreatifitas, banyak juga sms standar dengan cukup mengucap maaf dan selamat lebaran. Bisa jadi karena si pengirim sms adalah orang yang cukup sibuk jadi tidak cukup waktu untuk mencipta sms kreatif. Bisa juga itu adalah standar pergaulan, standar usia, atau mungkin ada pertimbangan lainnya dari si pengirim sms.<br />
Ada juga yang sekedar copy paste dari sms yang diterima kemudian karena dirasa cukup bagus maka dikirim ke orang lain. Tentu saja orang lain itu dicari yang sekiranya tidak berkaitan dengan si pengirim asal sms. Tapi yang namanya jaring sosial itu tentu tidak bisa ditebak. Bisa jadi si pembuat awal sms menerima kembali sms yang dibuatnya sama persis dengan yang dikirimnya.<br />
Berikut ini 10 dari beberapa sms yang masuk ke inbox aku. Bisa jadi itu adalah sms dari anda, bisa jadi sms yang aku terima sama persis sms yang anda terima. Tidak ada maksud apa-apa, hanya untuk berbagi ucap maaf dan selamat lebaran. Membuka maaf, melebur dosa&#8230;</p>
<p>Senja temaram iringi kepergian bulan suci. Terlewati tanpa kita akhiri seiring maghfirahnya. Taqobbalaallahu minna wa minkum Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.<br />
Dan, bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada suga. Mohon maaf lahir dan batin.<br />
Mungkin hatiku tak sebening XL dan tak secerah MENTARI, banyak salah dan dosaku. FREN ijinkanku memohon SIMPATImu utk mo memaafkan semua kekhilafanku agar BEBAS dari roaming dosa LOKAL &amp; INTERNASIONAL darimu. Mari kita sambut lebaran ini dengan senyum&#8230; dan acungan JEMPOL&#8230;<br />
Sebelum inboxmu penuh, sebelum pulsaku habis, sebelum sms susah terkirim, dan sebelum pulsa sms menjadi 299. I just wanna say minal aidzin fal faidzin mohon maaf lahir dan batin.<br />
Tukang loenpia keliling kota. Loenpia laris pedagangnya kaya. Semakin manis ibadah kita. Dengan membuka maaf di hari raya. SELAMAT IDUL FITRI 1427 H. Mohon maaf lahir dan batin.<br />
Selamat IDUL FITRI. Atas nama kata yang membuat LARA. Atas nama sikap yang meninggalkan KHILAF. Mohon dibukakan pintu maaf. MINAL AIDZIN WALFAIDZIN. Maaf lahir batin.<br />
Waktu mengalir bagaikan air, ada luka yang pernah merebak, ada khilaf yang sempat terbuat, hdp ini jika ada maaf di antara sesama, mohon maaf lahir batin.<br />
Terang hati, tenangkan jiwa. Salam fitri, suci di hari raya. Mohon maaf lahir dan batin.<br />
Selamat idul fitri ya, mohon maaf lahir batin. Meskipun raga kita tidak bersua, tapi aku yakin hati kita akan saling memaafkan.<br />
Jika saja manusia tak diberi kesempatan berbuat dosa, pastilah dunia ini takkan berwarna dan terlihat indah di hari raya.. met idul fitri.. mohon maaf lahir batin.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=72&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/bermaafan-lewat-sms/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf Ini Antropologi</title>
		<link>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/maaf-ini-antropologi/</link>
		<comments>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/maaf-ini-antropologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 04:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munif.wordpress.com/2006/11/02/maaf-ini-antropologi/</guid>
		<description><![CDATA[Meski terawihku jarang-jarang, puasaku belepotan, dan maafku tak setulus Kahlil Gibran. Mumpung lebaran, siapa tau dapat bonus kefitrian. Mohon maaf lahir dan batin.Jika lebaran kemarin ada yang mendapat sms dari aku, pasti smsnya sama persis dengan sms di atas. Kalau BJ Habiebie, Wiranto, Soeharto, Prabowo, dan beberapa orang terkemuka negeri ini menerbitkan buku untuk menjelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=71&subd=munif&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Meski terawihku jarang-jarang, puasaku belepotan, dan maafku tak setulus Kahlil Gibran. Mumpung lebaran, siapa tau dapat bonus kefitrian. Mohon maaf lahir dan batin.</em>Jika lebaran kemarin ada yang mendapat sms dari aku, pasti smsnya sama persis dengan sms di atas. Kalau BJ Habiebie, Wiranto, Soeharto, Prabowo, dan beberapa orang terkemuka negeri ini menerbitkan buku untuk menjelaskan peristiwa penting yang pernah terjadi di negeri ini berkait dengan sikap dan tindakan mereka. Boleh dong aku juga memberi keterangan pada sms yang aku kirim saat lebaran kemarin.</p>
<p><span id="more-71"></span><br />
Sindiran yang bernada ironi, inilah semiotika yang terdapat dalam sms di atas. Aku mengadaptasi semangat salah satu iklan rokok, dengan banyak idiom populer yang telah mereka publikasikan, seperti: Jalan Pintas Dianggap Pantas; Kalo Bisa Mudah Kenapa Dipersulit; Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang dan masih banyak idiom lain yang cukup sering kita dengar dan baca di media massa.<br />
Coba baca lagi sms di atas, masak sich dengan terawih yang jarang-jarang dan puasa yang belepotan kita akan bisa mendapat ke-fitri-an di hari raya idul fitri? Sebuah ironi bukan? Tapi itulah yang banyak terjadi di negeri ini. Maaf ini adalah antropologi. Aku melihat yang tampak di masjid-masjid dan warung-warung makan saat bulan puasa dan fenomena semarak orang bermaafan di hari raya idul fitri.<br />
Meski aku berharap orang yang tidak sholat di masjid mereka melaksanakan sholat di rumah masing-masing. Orang yang ada di warung-warung makan di siang hari mereka sedang dalam perjalanan sehingga tidak diwajibkan berpuasa. Sehingga ada hubungan yang jelas untuk menerangkan melimpahnya jumlah jamaah sholat ied dan ibadah di bulan ramadhan yang jumlah jamaahnya selalu pas-pasan.<br />
Tapi bukan berarti aku ingin menyindir orang yang aku kirimi sms. Di sms di atas ada kata, terawihku, puasaku. Ya, sms di atas aku maksudkan terutama sebagai ironi bagi diriku sendiri, dan orang-orang yang masih merasa ada yang salah dengan puasa mereka.<br />
Bukankah inti dari kata membuka maaf adalah kesadaran untuk memperbaiki diri sendiri. Dan kita tidak akan bisa memperbaiki diri sendiri jika kita tidak tau atau tidak sadar dengan kesalahan yang kita buat. Tentu Tuhan yang akan menilai seberapa tulus usaha kita untuk memperbaiki diri, seberapa tulus usaha kita untuk melebur dosa kita sendiri.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/munif.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/munif.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/munif.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/munif.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/munif.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/munif.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/munif.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/munif.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/munif.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/munif.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/munif.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/munif.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=munif.wordpress.com&blog=408387&post=71&subd=munif&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munif.wordpress.com/2006/11/02/maaf-ini-antropologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">munif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>