Sastra Marjinal

Sunlie Alexander (cerpenis tinggal di Jogja) dan Gunawan Susanto (Redaktur Hiburan dan Seni, di Suara Merdeka) sepakat, masih terdapat banyak ketidaksepakatan tetang difinisi sastra marjinal. Bahkan Gunawan menganggap tak perlu ada pendifisian sastra marjinal. Menurutnya, sastra marjinal tergantung dari mana kita melihatnya. Apakah dari sastrawannya yang berasal dari kaum marjinal. Ataukah dari temanya yang berisi tentang cerita kaum marjinal.
Pendapat itu dilontarkan Gunawan dan Sunlie dalam diskusi dengan tema “Sastra Marjinal” dalam salah satu acara rangkaian Library Expo 2006 di perpustakaan IAIN Walisongo. Acara yang berlangsung hari Rabu (5/9) itu dihadir oleh ratusan peserta. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Amunief (Staf Ahli komunitas “Gambaridup” Semarang).
Lebih lanjut Gunawan menjelaskan, selama ini hanya sastrawan dominan yang diajarkan di bangku-bangku kuliah maupun di sekolahan.”Seolah kalau kita tidak menyukai WS Rendra, Chairil Anwar dan sastrawan Balai Pustaka lainnya, kita dianggap tidak paham tentang sastra. Padahal banyak sastrawan muda yang tidak terkenal namanya, tetapi bisa jadi karya mereka lebih baik dari para sastrawan dominan,” paparnya.
Selain itu Gunawan mengungkapkan, secara umum sastra sendiri sebenarnya dalam posisi yang termarjinalkan. “Politiklah yang dominan di negeri ini,” tegasnya.
“Percuma saja kita bicara tentang sastra, jika kita sendiri tidak pernah membaca karya sastra,” pesan Gunawan di akhir acara.
Filed under: Berita |





No Responses to “Sastra Marjinal”
Leave a Reply